Sabtu, 24 Maret 2018
Selasa, 06 Maret 2018
KEUTAMAAN MEMBACA AL QUR’AN
1. Al Qur’an adalah Kalamullah a.Kitab yang Mubarak (diberkahi) QS. 6 : 92 b.Menunun kepada jalan yang lurus Qs. 17 : 9 c.Tidak ada sedikitpun kebatilan di dalamnya QS. 41: 42
2. Membaca Al Qur'an adalah sebaik-baik amal
perbuatan.
Rasulullah bersabda : "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan AL Qur'an" HR Al Bukhari dari Utsman bin Affan.
Rasulullah bersabda : "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan AL Qur'an" HR Al Bukhari dari Utsman bin Affan.
3. Al Qur'an akan menjadi syafi'
penolong di hari kiamat.
Rasulullah bersabda : Bacalah Al Qur'an sesungguhnya ia akan menjadi penolong pembacanya di hari kiamat " HR Muslim dari Abu Umamah.
4. Beserta para malaikat yang mulia di hari kiamat.
Sabda Nabi : "Orang yang membaca Al Qur'an dan dia lancar membacanya akan bersama para malaikat yang mulia dan baik. Dan orang yang membaca Al Qur'an dengan terbata-bata, ia mendapatkan dua pahala " Muttafaq alaih dari Aisyah ra.
5. Aroma orang beriman.
Sabda Nabi : "Perumpamaan orang beriman yang membaca Al Qur'an adalah bagaikan buah utrujah, oromanya harum dan rasanya nikmat.....
6. Penyebab terangkatnya kaum. Sabda Nabi :
"Sesungguhnya Allah akan mengangkat suatu kaum dengan kitab ini dan akan menjatuhkannya dengan kitab ini pula" HR Muslim dari Umar bin Khatthab.
7. Turunnya rahmah dan sakinah.
Sabda Nabi : "Tidak ada satu kaum yang mereka sedang berdzikir kepada Allah, kecuali para malaikat akan mengitarinya, dan rahmat Allah akan tercurah kepadanya, dan sakinah (kedamaian) akan turun di atasnya, dan Allah akan sebutkan mereka pada malaikat yang ada di sisi-Nya. HR. At Tirmidziy dan Ibn Majah dari Abu Hurairah dan Abu Said.
8. Memperoleh kebajikan yang berlipat ganda.
Dari Ibnu Mas'ud ra berkata : Rasulullah SAW bersabda:"Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka ia akan memperoleh satu hasanah (kebajikan). Dan satu hasanah akan dilipat gandakan menjadi sepuluh, saya tidak katakan alif lam mim satu huruf, akan tetapi ali satu hurf, lam satu huruf, dan mim satu huruf. HR At Tirmidziy
9. Bukti hati yang terjaga/melek.
Dari Ibn Abbas ra berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya orang yang di hatinya tidak ada sesuatupun dari Al Qur'an, maka ia bagaikan rumah kosong. HR At Tirmidziy.
Rasulullah bersabda : Bacalah Al Qur'an sesungguhnya ia akan menjadi penolong pembacanya di hari kiamat " HR Muslim dari Abu Umamah.
4. Beserta para malaikat yang mulia di hari kiamat.
Sabda Nabi : "Orang yang membaca Al Qur'an dan dia lancar membacanya akan bersama para malaikat yang mulia dan baik. Dan orang yang membaca Al Qur'an dengan terbata-bata, ia mendapatkan dua pahala " Muttafaq alaih dari Aisyah ra.
5. Aroma orang beriman.
Sabda Nabi : "Perumpamaan orang beriman yang membaca Al Qur'an adalah bagaikan buah utrujah, oromanya harum dan rasanya nikmat.....
6. Penyebab terangkatnya kaum. Sabda Nabi :
"Sesungguhnya Allah akan mengangkat suatu kaum dengan kitab ini dan akan menjatuhkannya dengan kitab ini pula" HR Muslim dari Umar bin Khatthab.
7. Turunnya rahmah dan sakinah.
Sabda Nabi : "Tidak ada satu kaum yang mereka sedang berdzikir kepada Allah, kecuali para malaikat akan mengitarinya, dan rahmat Allah akan tercurah kepadanya, dan sakinah (kedamaian) akan turun di atasnya, dan Allah akan sebutkan mereka pada malaikat yang ada di sisi-Nya. HR. At Tirmidziy dan Ibn Majah dari Abu Hurairah dan Abu Said.
8. Memperoleh kebajikan yang berlipat ganda.
Dari Ibnu Mas'ud ra berkata : Rasulullah SAW bersabda:"Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka ia akan memperoleh satu hasanah (kebajikan). Dan satu hasanah akan dilipat gandakan menjadi sepuluh, saya tidak katakan alif lam mim satu huruf, akan tetapi ali satu hurf, lam satu huruf, dan mim satu huruf. HR At Tirmidziy
9. Bukti hati yang terjaga/melek.
Dari Ibn Abbas ra berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya orang yang di hatinya tidak ada sesuatupun dari Al Qur'an, maka ia bagaikan rumah kosong. HR At Tirmidziy.
Referensi
Riyadhssolihin.
Kamis, 01 Maret 2018
PENERIMAAN SISWA/I BARU SMPIT & SMAIT TAHUN AJARAN 2018/2019
Yayasan Aljazeerah Simeulue
Kembali membuka
PENERIMAAN SISWA/I BARU
SMP-IT & SMA-IT RUHUL ISLAM
TAHUN PELAJARAN 2018/2019
PROGRAM UNGGULA!N
- Tahfidzul Qur'an
- Bahasa Inggris
- Study Tour
- Outbond
- Mentoring (Syakhsiyah Islamiah)
- Pendidikan Karakter (Pembinaan Akhlak)
FASILITAS
1. Ruang Belajar Full AC
2. Ruang Mushallah
3. Ruang Kantin
4. Lapangan Bulu Tangkis
5. Lapangan Tenis Meja
6. Lapangan Bela Diri
SYARAT PENDAFTARAN:
1. Mengisi Formulir Pendaftaran yg disediakan
2. Foto Copy Ijazah & SKHU SD/Sederajat (SMP-IT)
3. Foto Copy Ijazah & SKHU SMP/Sederajat (SMA-IT)
4. Foto Copy Rapor Kls 6 SD/Sederajat (SMP-IT)
5. Foto Copy Rapor Kelas 3 SMP/Sederajat (SMA-IT)
6. Foto Copy Kartu Keluarga
7. Foto Copy Akte Kelahiran
8. Pas Photo 3X4 & 4X6
PEMBIAYAAN.
📚SMP-IT
- Biaya formulir Rp. 100.000,-
- SPP Rp. 350.000,/Bulan
- Uang pembangunan gelombang I Rp. 3.000.000,-
- Uang pembangunan gelombang II Rp. 5.000.000,-
- Uang pembangunan normal/pindahan Rp. 7.500.000,-
📚SMA-IT
- Biaya formulir Rp. 100.000,-
- Uang pembangunan Rp. 5.000.000,-
- Uang kegiatan tahunan Rp. 600.000,-
- Biaya SPP Rp. 350.000,-/ bulan.
WAKTU PENDAFTARAN
📚SMP-IT
Gelombang I (februari-Maret 2018)
Gelombang II (April 2018)
📚 SMA-IT
Februari - April 2018
--------------------------------------
BUKA setiap Hari
Senin - Jum'at
Pukul 08.00 - 15.00 wib
Di SMP-IT RUHUL ISLAM
📚📚📚📚📚📚📚📚
Ketua Yayasan
Salmuliyadi, S. Sos.I
Kepala SMA-IT.
Asep Jauhari, Lc
Kepala SMP-IT.
Ali Usran, S.Pd.I
Dewan Guru :
- Syahrul Amin, S.Pd
- Ernawati, M.Pd
- Awiriga Soedarti,S.Pd.I
- Winda Ariani,S.Pd.I
- Alfinusahrin,S.Pd.I
- Fatmawani,S.Pd
- Mahyarudin, S. Pd
- Ade Irmayanti, S. Pd
- Siti Husna, S. Pd
- Misra Wardi,S.Pd
- Takril Amin Alhafidz
- Muhammad Shaleh Alhafidz
🎯🎯🎯🎯🎯🎯🎯🎯
HP/WA
Ali Usran: 082161731550
Asep J. : 081265088086
Ayo segera mendaftar penerimaan terbatas
Kembali membuka
PENERIMAAN SISWA/I BARU
SMP-IT & SMA-IT RUHUL ISLAM
TAHUN PELAJARAN 2018/2019
PROGRAM UNGGULA!N
- Tahfidzul Qur'an
- Bahasa Inggris
- Study Tour
- Outbond
- Mentoring (Syakhsiyah Islamiah)
- Pendidikan Karakter (Pembinaan Akhlak)
FASILITAS
1. Ruang Belajar Full AC
2. Ruang Mushallah
3. Ruang Kantin
4. Lapangan Bulu Tangkis
5. Lapangan Tenis Meja
6. Lapangan Bela Diri
SYARAT PENDAFTARAN:
1. Mengisi Formulir Pendaftaran yg disediakan
2. Foto Copy Ijazah & SKHU SD/Sederajat (SMP-IT)
3. Foto Copy Ijazah & SKHU SMP/Sederajat (SMA-IT)
4. Foto Copy Rapor Kls 6 SD/Sederajat (SMP-IT)
5. Foto Copy Rapor Kelas 3 SMP/Sederajat (SMA-IT)
6. Foto Copy Kartu Keluarga
7. Foto Copy Akte Kelahiran
8. Pas Photo 3X4 & 4X6
PEMBIAYAAN.
📚SMP-IT
- Biaya formulir Rp. 100.000,-
- SPP Rp. 350.000,/Bulan
- Uang pembangunan gelombang I Rp. 3.000.000,-
- Uang pembangunan gelombang II Rp. 5.000.000,-
- Uang pembangunan normal/pindahan Rp. 7.500.000,-
📚SMA-IT
- Biaya formulir Rp. 100.000,-
- Uang pembangunan Rp. 5.000.000,-
- Uang kegiatan tahunan Rp. 600.000,-
- Biaya SPP Rp. 350.000,-/ bulan.
WAKTU PENDAFTARAN
📚SMP-IT
Gelombang I (februari-Maret 2018)
Gelombang II (April 2018)
📚 SMA-IT
Februari - April 2018
--------------------------------------
BUKA setiap Hari
Senin - Jum'at
Pukul 08.00 - 15.00 wib
Di SMP-IT RUHUL ISLAM
📚📚📚📚📚📚📚📚
Ketua Yayasan
Salmuliyadi, S. Sos.I
Kepala SMA-IT.
Asep Jauhari, Lc
Kepala SMP-IT.
Ali Usran, S.Pd.I
Dewan Guru :
- Syahrul Amin, S.Pd
- Ernawati, M.Pd
- Awiriga Soedarti,S.Pd.I
- Winda Ariani,S.Pd.I
- Alfinusahrin,S.Pd.I
- Fatmawani,S.Pd
- Mahyarudin, S. Pd
- Ade Irmayanti, S. Pd
- Siti Husna, S. Pd
- Misra Wardi,S.Pd
- Takril Amin Alhafidz
- Muhammad Shaleh Alhafidz
🎯🎯🎯🎯🎯🎯🎯🎯
HP/WA
Ali Usran: 082161731550
Asep J. : 081265088086
Ayo segera mendaftar penerimaan terbatas
Rabu, 28 Februari 2018
Jumat, 12 Mei 2017
UMAT ISLAM TIDAK PEMAAF...?
Ust. DR. Urwatul Wusqo.LC,MA
Sebagian kaum muslimin pada saat ini ada yang bertanya, kenapa umat Islam tidak bersikap pemaaf pada saat sekarang ini sebagaimana dahulunya? Dahulu nabi dihina, dicaci, dilempar dengan batu namun beliau memaafkan orang-orang yang berlaku demikian kepada beliau, namun sekarang kita lihat umat Islam susah memaafkan orang yang salah.
Jawaban untuk pertanyaan tersebut: sikap pemaaf memang merupakan akhlaq Rasulullah saw, apapun yang ditujukan kepada beliau dari keburukan orang lain bahkan pelecehan sekalipun, beliau sikapi dengan penuh kemaafan. Diantara kisah luar biasa yang sampai kepada kita dari kemaafan Rasulullah saw adalah kisah dakwah ke Thaif. Rasulullah saw mengatakan kepada Aisyah bahwa apa yang beliau dapati di Thaif merupakan hal yang sangat berat beliau hadapi sebagaimana perang Uhud sampai-sampai malaikat jibril menawarkan agar malaikat gunung menimpakan gunung ke penduduk Thaif akibat perbuatan mereka kepada nabi namun Nabi Muhammad saw malah memaafkan mereka dan mendoakan kebaikan bagi mereka.
Namun apakah selalu seperti itu sikap nabi Muhammad saw? Dalam sirah kita akan dapati bahwa Rasulullah saw mengutus beberapa orang ke berbagai pimpinan negara untuk berdakwah kepada mereka. Diantara utusan tersebut ada yang diutus kepada Kisra Persia, akan tetapi ketika sang kisra membaca surat yang dikirim kepadanya maka sang kisra kemudian merobek-robek surat tersebut. Pertanyaan yang timbul dalam diri kita, apakah yang akan dilakukan oleh Rasulullah saw ketika mendapatkan berita perobekan tersebut? Kalaulah dipakai kaedah kemaafan maka kita akan dapati Rasulullah saw akan memaafkan kisra Persia karena hanya sebuah surat yang dirobek dan tidak ada seorang muslim yang dihina atau al-Quran yang dilecehkan. Namun yang terjadi sebaliknya, Rasulullah saw sangat marah dengan berita tersebut dan beliau berdoa :
اَللَّهُمَّ مَزِّقْ مُلْكَهُ
Artinya : “ Ya Allah, hancurkanlah dan cerai beraikanlah kekuasaannya”
Allah swt mengabulkan doa nabi tersebut, pada masa pemerintahan Umar bin Khattab semua wilayah yang pernah berada di bawah kekuasaan kisra Persia, tidak ada satupun yang tertinggal semua sudah lepas dari kekuasaan mereka.
Apakah yang membedakan antara dua kisah diatas? Jawabannya ada pada hadits Aisyah r.a :
وَاللَّهِ مَا انْتَقَمَ لِنَفْسِهِ فِي شَيْءٍ يُؤْتَى إِلَيْهِ قَطُّ، حَتَّى تُنْتَهَكَ حُرُمَاتُ اللَّهِ، فَيَنْتَقِمُ لِلَّهِ
Artinya : Demi Allah, Tidaklah Rasulullah saw membalas sesuatu yang ditujukan kepada dirinya kecuali ketika kehormatan agama Allah SWT dilanggar maka beliau pun marah semata-mata karena Allah (HR al-Bukhari).
Bukalah lembaran sirah Rasul maka kita akan dapati kemaafan diberikan Rasul untuk sesuatu yang berkaitan dengan diri beliau, baik hinaan, celaan,lemparan batu dan lain sebagainya, akan tetapi ketika menyangkut kehormatan agama maka beliau mengajarkan kepada kita untuk menunjukkan kemarahan supaya tidak ada seorang pun yang mencoba bertidak semena-mena terhadap agama ini.
Kisah lain akan kita dapati pada kisah Yahudi bani Qainuqa, yang terkenal sebagai pandai emas. Suatu hari seorang muslimah datang ke pasar bani Qainuqa untuk membeli atau memperbaiki emasnya, namun sang penjual mengikat jilbab muslimah tersebut sehingga ketika ia berdiri maka nampaklah aurat bagian belakangnya. Seorang pemuda muslim yang lewat berusaha membantu sang muslimah akan tetapi ia dikeroyok oleh orang-orang Yahudi bani Qainuqa’ yang ada di pasar tersebut. Ketika sampai berita itu kepada Rasulullah saw maka apakah yang akan beliau lakukan? Kalaulah teori kemaafan yang dipakai, niscaya Rasul akan memaafkan yahudi bani Qainuqa dan mengadakan negosiasi dengan mereka. Akan tetapi ternyata yang beliau lakukan adalah sebaliknya, beliau perintahkan semua sahabat untuk mengepung perkampungan yahudi bani Qainuqa dengan pilihan: perang atau mereka keluar dari Madinah dalam keadaan terusir. Pengepungan itu terjadi selama 15 hari, lalu mereka memilih untuk keluar dari Madinah dalam keadaan terusir dan tidak boleh kembali lagi ke Madinah.
Cukuplah kisah-kisah diatas sebagai jawaban bagi kita, kenapa umat Islam tidak memaafkan pelecehan yang dilakukan terhadap al-Quran dan agama mereka, sebab nabi yang mengajarkan kita untuk memaafkan kesalahan orang lain maka beliau juga yang mengajarkan kepada kita untuk bersikap tegas kepada penista agama.
Kata kuncinya adalah: kalau pelecehan dan penghinaan itu kepada diri beliau maka beliau akan memaafkan sepenuh hati tanpa perlu diminta, akan tetapi kalauah pelecehan itu dalam masalah agama, maka beliau menunjukkan kemarahannya.
Seakan-akan pesan kepada kita semua :
“kalaulah penghinaan itu kepada diri kita, maka seribu maaf akan kita berikan
Tapi kalaulah penghinaan itu kepada agama, maka seribu nyawa akan kami siapkan”...
RAMADHAN SUDAH DEKAT
(H. Irsyad Syafar, Lc, M.Ed)
Kita sudah diambang Ramadhan. Bulan mulia bulan penuh berkah. Hadiah Allah yang sangat agung yang takkan berulang. Bila sudah berlalu, dia takkan pernah kembali. Ramadhan berikutnya adalah makhluk baru.
Apakah hadiah Allah yang berharga ini akan kita biarkan begitu saja? Alangkah meruginya kita. Salah satu doa malaikat yang diaminkan Rasulullah saw saat naik mimbar adalah, "Celakalah orang yang bertemu dengan ramadhan, lalu dia tidak diampuni..." (HR Khuzaimah, Ibnu Hibban, Baihaqi, dishahihkan Albany)
Apakah ramadhan ini datang menghampiri kita, lalu kita tidak punya persiapan? Kita tidak punya target yang jelas? Padahal kita tidak tahu apakah akan bertemu lagi dengan ramadhan berikutnya atau tidak.
Hadiah Ramadhan peluang yang sangat mahal. Setiap mukmin tak akan membiarkan dirinya ketinggalan. Berlomba-lomba dalam kebaikan, berpacu dalam amal shaleh dan mengambil sebanyak mungkin fadhilahnya adalah obsesi seorang mukmin.
Namun, itu semua sangat erat kaitannya dengan apa yang ingin dicapai. Apa target yang hendak diraih setelah Ramadhan berlalu. Kondisi apa yang mau diwujudkan dalam dirinya bila Ramadhan telah usai.
Allah sudah memberikan arahan yang sangat jelas. Target akhir dari ibadah di bulan Ramadhan adalah ketaqwaan. "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang yang bertaqwa". (QS Albaqarah: 183).
Ketaqwaan adalah buah dari seluruh rangkaian ibadah pada bulan Ramadhan. Dan ketaqwaan itu tempatnya di hati. Hati yang bertaqwa adalah hati yang tunduk kepada Allah dalam perintah dan laranganNya. Yaitu hati yang diterangi oleh cahaya keimanan.
Pantulan cahaya keimanan itu terlihat dari perilaku dan perbuatan. Terindikasi secara nyata dalam bentuk keistiqamahan dalam amal shaleh dan kesinambungan dalam kebaikan. Terutama pasca Ramadhan. "Barang siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, itu pertanda dari ketaqwaan hati...". (QS Alhajj: 32).
Baginda Rasulullah saw pernah menjelaskan indikasi hati yang telah dimasuki cahaya "iman":
إذا دخل النور القلب انفسخ وانشرح قالوا: فما علامة ذلك يا رسول الله؟ قال: الإنابة إلى دار الخلود، والتجافي عن دار الغرور، والاستعداد للموت قبل نزوله
[الترمذي عن عبد الله بن مسعود]
Artinya: "Apabila cahaya (iman) telah masuk ke dalam hati, maka hati itu akan bersih dan bercahaya". Para sahabat bertanya, "Apakah tandanya wahai Rasulullah?". Beliau menjawab, "Berharap ke kampung abadi, menjauh dari kampung yang menipu (dunia) dan bersiap untuk kematian sebelum kedatangannya". (HR Tirmidzi dari Ibnu Mas'ud).
Dengan demikian ada 3 indikator hati yang telah bertaqwa. Artinya lagi, orang yang berhasil mencapai target Ramadhan adalah orang yang memiliki 3 indikator tersebut.
Pertama, hatinya cendrung dan sangat berharap dengan kampung abadi, yaitu kampung akhirat. Sangat menginginkan kebahagiaan disana, berupa kemuliaan balasan Allah dengan sorga yang tinggi.
Ciri-ciri orang yang mengharapkan kemulian akhirat itu antara lain: bersegera dan berlomba dalam berbagai kebaikan, sangat wara' dan hati-hati (terhadap dosa) dan mengedepankan kemaslahatan agama dari pada kemaslahatan dunia disaat keduanya saling bertentangan.
Kedua, dia cendrung menjauh dan mengurangi diri dari kampung dunia yang menipu. Ciri sederhananya antara lain: mengurangi perhatian terhadap kenikmatan dunia, tidak terlalu ngotot untuk memperolehnya, tidak bersedih saat hilang atau berkurang, tidak terlalu bangga dan bahagia saat bertambah, tidak hasad melihat orang lain yang memperolehnya dan tidak berebut bersaing mengumpulkannya untuk dirinya.
Ketiga, indikasinya adalah mempersiapkan diri untuk kematian sebelum ia datang. Ciri-cirinya adalah: menghalalkan dan meminta ridha atas kezhaliman yang pernah dilakukan kepada orang lain, mengembalikan semua hak kepada pemiliknya, menyegerakan istighfar dan taubat atas segala dosa dan menuliskan wasiat kepada keluarga atau karib kerabat.
Tiga indikator ketaqwaan di atas takkan terkumpul dalam diri seseorang bila ramadhannya biasa-biasa saja, ibadahnya hanya rutinitas, amal shalehnya minimalis, pilihanya hanya standar terbawah, apalagi kalau hanya "asal hutang lunas".
Ketaqwaan hanya akan tercapai bila ramadhan diisi dengan amalan istimewa. Istimewa dalam kualitas dan kuantitas. Shalat-shalat wajib mesti terjaga dalam berjamaah di masjid, shalat-shalat sunat qabliyah dan ba'diyah terlaksana secara maksimal, tilawatil quran dengan baik, diiringi dengan tadabbur, berinfaq dan bersedekah, berbagi dan peduli kepada sesama dan lain sebagainya.
Disamping itu, orientasi dalam beribadah juga harus diperbaiki. Saat tilawah Al Quran bukan sekedar sudah berapa kali khatam. Saat tarawih bukan asal selesai dan berapa rakaatnya. Saat berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar. Saat berinfaq bukan sekedar sudah berinfaq, dan seterusnya. Akan tetapi, semua amalan tersebut dilakukan, sejauh mana hati khusyuk dan tunduk kepada Allah, seberapa besarnya iman dan taqwa kepadaNya bertambah, seperti apa perubahan diri menjadi lebih baik diwujudkan.
Dan sesuai dengan mulia dan istimewanya target yang hendak dicapai setelah ramadhan, maka persiapan untuk menyambut ramadhan juga harus lebih baik. Rencana-rencana kebaikan harus betul-betul dicanangkan, bahkan bila perlu dituliskan. Dan kemudian pengorbanan serta kesabaran agar terlaksananya rencana tersebut juga harus disiapkan. Sebab, ketaatan dan amal shaleh itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.
"Dan sesungguhnya shalat itu amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk". (QS Al baqarah: 32)
"Dan suruhlah keluargamu shalat, dan bersabarlah terhadap shalat tersebut...." (QS Thaha: 132)
Wallahu A'laa wa A'lam.
HUKUM RITUAL MALAM NISFU SYA'BAN
▫Banyak berseliweran tulisan di medsos tentang keutamaan malam nisfu Sya'ban dan pentingnya shalat malam dan puasa di siang harinya.
*Namun, apakah hal itu benar*❓
▫Kita sebagai orang awwam sebaiknya bertanya kepada ahli ilmu, agar tidak salah jalan.
▫Allah Ta’ala berfirman,
فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴿٧﴾
*"Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui."* (Q.S. Al-Anbiya, 21:7).
▫Agar jelas, disimak penjelasan dari Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah tentang malam nisfu Sya'ban,
▪سُــئل الشَّـيْخ العـلّامـة ابـن عُـثيمين
-رَحِـمهُ الله- :
❪📜❫ السُّـــــــؤَالُ:
• هـل هـناك سـنة مـشروعة فـي ليلة النصـف مـن شـعبان, فـقد رأينـا نشـرة مضـمنة ببعـض الأحـاديث فـي فضـل هـذه اللـيلة, قـد صـحح بعـض هـذه الأحـاديث بعـض المحـدثين؟
❪📜❫ الجَــــــوَابُ:
❐ الصحـيح أن جمـيع مـا ورد فضـل لـيلة النصـف مـن شعبـان ضـعيف لا تـقوم بـه حجـة, ومـنها أشـياء موضـوعة، ولـم يعـرف عـن الصـحابة أنهـم كانـوا يعظمـونها, ولا أنهـم كانـوا يخصونـها بعـمل, ولا يـخصون يـوم النصـف بـصيام,
☜ وأكـثر مـن كانـوا يعظـمونها أهـل الـشام -التابـعون ليـس الصـحابة- والتابعـون في الحـجاز أنكـروا علـيهم أيـضاً, قالـوا : لا يمـكن أن نعـظم شيئـاً بـدون دليـل صـحيح. فالصـواب : أن ليـلة النـصف مـن شعـبان كـغيرها مـن اللـيالي، لا تخـص بقـيام, ولا يـوم النـصف بـصيام,
❐ لـكن مـن كـان يقـوم كـل ليـلة, فـلا نقـول : لا تقـم ليلـة النـصف, ومـن كـان يصـوم أيـام البيـض لا نـقول : لا تصـم أيـام النـصف, إنمـا نقـول : لا تخـص ليلـها بقـيام ولا نـهارها بـصيام .
🔉 الصـوتية مـن هنـ↶ـا : ⇓
http://cutt.us/PpVm6
▶ Syeikh Allaamah Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya:
🔘 *PERTANYAAN:*
📃 Apakah ada amalan sunnah yang disyareatkan pada malan nisfu Sya'ban, sungguh kami telah melihat tulisan yang tersebar yang membawakan hadits-hadits tentang keutamaan malam itu, sungguh telah dishahihkan sebagian hadits-hadits yang ada oleh sebagian ahli hadits?
🔘 *JAWABAN*
📃Yang benar bahwa seluruh hadits-hadits yang datang tentang keutamaan malam nisfu Sya'ban adalah dhaif (lemah) yang tidak bisa menjadi hujjah, dan di antara hadits itu hadits palsu, dan tidak diketahui dari kalangan sahabat yang mengagungkan malam itu, dan tidaklah mereka mengkhususkan dengan suatu amalan pada malam itu, dan tidak pula mereka berpuasa pada hari pertengahan Sya'ban,
👉 Kebanyakan orang yang mengagungkannya adalah penduduk Syam - mereka adalah tabiin bukan sahabat - , dan para tabiin di hijaz (Mekkah dan Madinah) mengingkari mereka (penduduk Syam) juga, mereka mengatakan,"Tidak mungkin kita mengagungkan sesuatu tanpa adanya dalil yang shahih".
📃Maka yang benar adalah sesungguhnya malam nisfu Sya'ban itu seperti malam-malam lainnya, tidak ada pengkhususan pada malam harinya untuk shalat malam dan tidak pula siangnya untuk berpuasa.
📃Akan tetapi, jika ada orang yang (biasa) shalat lail di setiap malam, maka tidak kita katakan kepadanya, "jangan shalat malam pada nisfu Sya'ban", dan bagi orang yang terbiasa berpuasa sunnah Ayyamul Bidh,"Janganlah berpuasa pada hari nisfu Sya'ban", (artinya kalau sudah terbiasa shalat malam dan puasa, maka boleh melakukannya meskipun bertepatan dengan nisfu Sya'ban- Pent.)
📃Kita hanya mengatakan, "Janganlah kamu mengkhususkan pada malam nisfu Sya'ban itu dengan shalat malam dan jangan pula siangnya dengan berpuasa".
Wallaahu a’lam.
🖋 Ustadz Agus Santoso, Lc., M.P.I hafizhahullah
Selasa, 09 Mei 2017
Tetap “ISTIQAMAH” menghafal, meskipun TAK HAFAL-HAFAL, barangkali lewat pintu itu, Allah Ingin memberikan banyak karunia-Nya
…
1. Satu huruf Al-Qur’an satu kebaikan, dan satu kebaikan 10 pahala. Bagi yang kesulitan melafalkan, satu hurufnya dua kebaikan. Berarti setiap hurufnya 20 pahala. Semakin sulit semakin banyak. Kalikan dengan jumlah pengulangan anda.
2. Al-Qur’an, seluruhnya, adalah kebaikan. Menghafal tak hafal-hafal berarti Anda berlama-lama dalam kebaikan. Semakin lama semakin baik. Bukankah anda menghafal untuk mencari kebaikan.
3.Ketika Anda menghafal Al-Qur’an, berarti Anda sudah punya niat yang kuat. Rasulullah shallallahu alaihi wa salam menyebut 70 syuhada’ dalam tragedi sumur Ma’unah sebagai qari (hafizh), padahal hafalan mereka belum semua. Ini karena seandainya mereka masih hidup, mereka akan terus menghafal. Jadi, meski Anda menghafal tak hafal-hafal, Anda adalah hafizh selama tak berhenti menghafal. Bukankah hafizh yang sebenarnya di akhirat?
4.Menghafal Al-Qur’an ibarat masuk ke sebuah taman yang indah. Mestinya anda betah, bukan ingin buru-buru keluar. Menghafal tak hafal-hafal adalah cara Allah memuaskan anda menikmati taman itu. Terseyumlah.
5.Ketika anda menghafal Al-Quran, meski tak hafal-hafal, maka dapat dipastikan, paling tidak, selama menghafal, mata Anda, telinga Anda, dan lisan Anda tidak sedang melakukan maksiat. Semakin lama durasinya, semakin bersih.
6.Memegang mushaf adalah kemuliaan, dan melihatnya adalah kesejukan. Anda sudah mendapatkan hal itu saat menghafal kendati tak hafal-hafal.
7.Adakalanya kita banyak dosa. Baik yang terasa maupun tak terasa. Dan menghafal tak hafal-hafal adalah kifaratnya, di mana, barangkali, tidak ada kifarat lain kecuali itu.
8.Tak hafal-hafal adakalanya karena Allah sangat cinta kepada kita. Allah tak memberikan ayat-ayat-Nya sampai kita benar-benar layak dicintai-Nya. Jika kita tidak senang dengan keadaan seperti ini, maka kepada siapa sebenarnya selama ini kita mencintai. Ini yang disebut: Dikangenin ayat.
9.Menghafal tak hafal-hafal tentu melelahkan. Inilah lelah yang memuaskan, karena setiap lelahnya dicatat sebagai amal sholeh. Semakin lelah semakin sholeh.
Repost: ust. Agung Cahyadi, LC, MA
QARIN, JIN PENDAMPING MANUSIA
QARIN, JIN PENDAMPING MANUSIA
QARIN (قرين) adalah jin yang diciptakan oleh Allah sebagai pendamping atau kembaran setiap manusia. Setiap anak manusia yg lahir ke dunia lahir beserta qarinnya sendiri, tak terkecuali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Hanya saja qarin Rasulullah itu Muslim, sedang yg lain-lainnya kafir. Dlm sebuah hadits riwayat lmam Ahmad dan lbn Hibban dari Abdullah ibn Mas'ud radhiyallahu anhu Rasulullah bersabda:
"Tiadalah seorang pun di antara kalian kecuali pasti disertai qarin dari bangsa jin". Para Sahabat bertanya: "Engkau juga, hai Rasulullah?" Beliau menjawab: "lya, aku juga, tetapi Allah telah membantu aku sehingga aku dpt mengislamkannya dan dia hanya menyuruhku berbuat yg baik-baik saja".
Pada umumnya qarin kafir ini mendorong dampingannya berbuat keji. Dialah yg membisikkan kewaswasan, membuatnya lalai beribadah shalat, membaca al-Quran dan sebagainya.
Allah berfirman:
ومن يكن الشيطان له قرينا فساء قرينا
"Barangsiapa yg syetan adalah pendampingnya maka itu adalah seburuk-buruk pendamping".
Untuk mengimbangi rongrongan qarin itu, Allah utus untuknya malaikat yg selalu membisikkan kebenaran dan mendorong berbuat baik. Lalu org yg bersangkutan dg akalnya mempertimbangkan akan tunduk pd bisikan qarin atau malaikat.
Seorang Muslim yg taat mampu menguasai qarinnya dan membuatnya tak berdaya, yaitu dg memulai setiap pekerjaan yg baik dg basmalah, banyak berzikir, membaca al-Quran dan mempertahankan komitmen utk selalu berbuat baik. Dg begitu dia akan berusaha keras memerangi hawa nafsunya dan menanggalan sifat-sifat tercela. Sejak di sorga, Allah telah berfirman kpd lblis sbg jwbn atas sesumbarnya utk menyesatkan anak-cucu Adam:
إن عبادي ليس لك عليهم سلطان إلا من اتبعك من الغاوين
"Hamba-hamba-Ku tak mungkin engkau kuasai kecuali orang-orang yg (memang bersedia) mengikutimu".
Menurut para ulama, jin ini bukanlah dari kalangan jin biasa. Dia jin yg ditugaskan secara khusus utk menyesatkan dampingannya dg menghiasi hal-hal yg buruk shg tampak baik. Jin ini dilahirkan bersama-sama manusia dan akan menyertainya sepanjang hidupnya. Tetapi dia tidak mati saat manusia dampingannya meninggal dunia, karena Allah telah menakdirkan dia hidup hingga menjelang hari kiamat. Kelak di akhirat kedua-duanya akan dihadapkan ke hadapan Allah untuk diadili. Tetapi, celakanya, qarin malah berlepas tangan dari dampingannya dan tidak bertanggungjawab atas kesesatan atau kedurhakaannya.
Semoga bermanfaat.!
Mari berbagi kebaikan...
#share ya sahabat fillah
MUHAMMADIYAH dan SHALAT TARAWIH DUA RAKA"AT SEKALI SALAM
(Tulisan ini sangat sangat bagus untuk kita baca, bagaimana pendapat Muhammadiyah dalam hal kaifiyat shalat tarawih...)
Muhammadiyah senantiasa berpegang kepada Al Qur’an dan Hadits yang shahih dalam menetapkan fatwa atau mentarjih hukum suatu permasalahan.
Muhammadiyah selalu menyerukan agar merujuk kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah ketika menghadapi perbedaan pendapat dalam masalah agama. Sebagai keta’atan kepada firman Allah ta’alaa:
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya." (An Nisaa 59)
Oleh karena itu, dalam menyikapi realita shalat tarawih yang kerap berbeda tatacaranya antara satu daerah dengan daerah lainnya, maka setelah merujuk kepada Al Qur'an dan hadits Nabi yang shahih, Muhammadiyah menilai bahwa semua pendapat para ulama memiliki landasannya masing-masing.
Muhammadiyah mengakui tata cara shalat tarawih yang bersalam setiap dua raka’at sebagaimana pendapat jumhur ulama, juga mengakui kebolehan dan kesahihan mengerjakan tarawih empat raka’at sekali salam sebagaimana pendapat Imam Abu Hanifah dan sebagian ulama lainnya.
Muhammadiyah memaklumi bahwa perkara kaifiyat tarawih dua-dua atau empat-empat merupakan khilafiyah para ulama tingkat Imam Mazhab yang empat.
Hal ini dapat kita lihat dalam pemaparan para guru-guru besar persyarikatan muhammadiyah, baik itu dalam buku Himpunan Putusan Tarjih (HPT), maupun dalam buku Soal Jawab Agama, dan juga dalam buku Panduan Ibadah Ramadhan serta buku-buku yang lainnya.
Dalam buku Himpunan Putusan Tarjih halaman 347 bab shalat lail , jumlah raka‘at yang dituntunkan dalam shalat tarawih adalah 11 raka‘at, boleh dikerjakan dengan dua cara. Nashnya adalah sebagai berikut:
“Hendaklah engkau membiasakan shalat malam sesudah shalat isya hingga menjelang terbit fajar, baik di dalam maupun di luar bulan Ramadhan, engkau kerjakan sebelas raka’at, dua raka’at, dua raka’at, atau empat raka’at, empat raka’at, dengan membaca fatihah dan surat dari Al Quran pada tiap-tiap raka’at. Kemudian engkau akhiri tiga raka’at dengan membaca surat al a’laa sesudah fatihah pada raka’at pertama, surat al Kafirun pada raka’at kedua dan surat al Ikhlash pada rakaat ketiga.” (Himpunan Putusan Tarjih, hal. 347)
Dan juga dinyatakan dalam buku tersebut mengenai cara pelaksanaannyanya, tentang berapa raka‘at lalu salam, HPT menyatakan:
“Jika engkau hendak mengerjakan shalat dengan cara lain, maka yang sebelas raka‘at itu boleh engkau kerjakan dua-dua raka‘at, atau empat-empat raka‘at seperti di atas, atau di enam raka‘at. Atau delapan raka‘at terus menerus dan hanya duduk pada penghabisan salam.” (Himpunan Putusan Tarjih, hal. 347)
Dalam buku Tuntunan Ibadah pada Bulan Ramadhan halaman 35 poin c dinyatakan: “Qiyamu Ramadhan (Shalat Tarawih) dikerjakan antara lain dengan cara 4 raka‘at, 4 raka‘at tanpa tasyahud awal, dan 3 raka‘at witir tanpa tasyahud awal, sebagaimana dijelaskan dalam hadits…”
Kemudian dinyatakan: “Qiyamu Ramadhan dapat juga dikerjakan dengan cara 2 raka’at, 2 raka’at, 2 raka’at, 2 raka’at, 2 raka’at dan 1 raka’at witir, sebagaimana dijelaskan dalam hadis…”
Maka menjadi terang bagi kita, bahwa Muhammadiyah tidak menolak praktek tarawih dua-dua, melainkan boleh dipilih antara empat-empat atau dua-dua.
Sekali lagi, muhammadiyah tidak menetang pendapat yang tarawih dua-dua sekali salam, justru muhammadiyah menjadikannya sebagai sebuah pilihan.
Akan tetapi yang ditentang oleh muhammadiyah adalah orang-orang yang merasa pendapatnya paling benar, yaitu orang yang bersikeras bahwa shalat tarawih empat-empat itu tidak sah.
Apabila ada sebagian guru-guru dan ustadz di kalangan persyarikatan muhammadiyah yang mencela atau menentang tarawih dua-dua, maka itu adalah pendapat pribadinya sendiri, bukan sikap atau pendapat persyarikatan.
Demikian, wallahu a’lamu bishshawaab,
Wallahu al Muwaffiq ilaa aqwamith thariq…
Al-Wala' Wal-Bara'
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimmpin (mu): sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagiaa yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada oarng-orang yang zalim " (QS. Al-Maidah: 51)
Definisi Al-Wala' Wal-Bara'
Kata al-wala' menurut bahasa berarti; mencintai, menolong, mengikuti, mendekat kepada sesuatu. Kata al-wala' menurut terminologi syariat berarti; penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang disukai dan diridhoi Allah berupa perkataan, perbuatan, kepercayaan, dan oarng. Wilayah al-wala'; apa yang dicintai Allah. Ciri utama wali Allah; mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah, ia condong dan melakukan semua itu dengan penuh komitmen.
Kata al-bara' menurut bahasa berarti; menjauhi, membersihkan diri, melepaskan diri, memusuhi. Kata al-bara' menurut terminologi syariat berarti; penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dibenci dan dimurkai Allah dari perkataan, perbuatan, kepercayaan serta orang. Wilayah al-bara'; apa yang dibenci Allah. Ciri utama al-bara'; membenci apa yang dibenci Allah secara menerus dan penuh komitmen.
Aqidah Al-Wala' Wal-Bara' adalah penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dicintai dan diridhoi Allah serta apa yang dibenci dan dimurkai Allah dalam perkataan, perbuatan, kepercayaan dan orang.
Kaitan-kaitan Al-Wala' Wal-Bara dibagi menjadi 4
1. Perkataan; zikir dicintai Allah, mencela dan menuduh dibenci Allah.
2. Perbuatan; (sholat, puasa, zakat, sedekah, dan berbuat kebajikan) dicintai Allah, (riba, zina, minum khamr) dibenci Allah.
3. Kepercayaan; (iman, tauhid) dicintai Allah, (kufur, syirik) dibenci Allah.
4. Orang; orang beriman yang mengesakan Allah dicintai Allah, orang kafir dan musrik dibenci Allah
Kedudukan Aqidah Al-Wala' Wal-Bara' dalam Syariat Islam.
1. Bagian penting dari makna syahadat
2. Bgaian dari ikatan iman yang terkuat
3. Sebab utama hati bisa rasakan manisnya iman
4. Tali hubungan di atas mana masyarakat Islam dibangun
5. Meraih pahala yang sangat besar
6. Perintah syariat untuk dahulukan hubungan ini daripada hubungan lain
7. Jika konsep ini teraplikasi, akan memperoleh walayatullah (lindungan dan kewalian dari Allah)
8. Tali penghubung yang kekal di antara manusia hingga hari kiamat
9. Syarat sahnya ucapan syahadat
10. Jika konsep ini tidak dijalankan, menjadi kafir.
11. Penyempurna keimanan
Aqidah Al-Wala' Wal-Bara'
• Wajib; 9:24, 2:165, 3:128, 3:141, 5:51
• Salah satu konsekuensi dan syarat sahnya syahadat
Pembagian manusia berdasarkan Aqidah Al-Wala' Wal-Bara' ada 3 bagian
1. Orang yang berhak mendapatkan wala' (loyalitas) mutlak:
Orang mukmin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan Allah dengan ikhlas karena Allah.
2. Orang yang berhak mendapat wala' di satu sisi dan bara' di sisi lain:
Muslim yang melakukan maksiat, yang melalaikan sebagian kewajiban agama, melakukan sebagian perbuatan yang diharamkan Allah namun tidak menyebabkan ia menjadi kufur dengan tingkatan kufur besar.
3. Orang yang berhak mendapat bara' mutlak:
Orang musyrik, kafir (Yahudi, Nasrani, Majusi, dll)
Syarat mendapat 'Kewalian' dari Allah
1. Berakal
2. Baligh
3. Kesesuaiannya dengan apa yang dicintai dan dibenci Allah
4. Mengetahui dasar-dasar agama
5. Mengetahui masalah-masalah furu' dalam syariat Islam
6. Mempunyai akhlak terpuji
7. Takut kepada Allah
Tingkat Wali-Wali Allah (Faatir:32)
1. As-Sabiquun Fil Khairat
2. Al-Muqtashid
3. Az-Zhalimu Linafsihi
Hak-Hak Al-Wala'
1. Hijrah
2. Membantu dan menolong kaum muslimin
3. Terlibat dalam permasalahan kaum muslimin
4. Mencintai kaum muslimin seperti mencintai diri sendiri
5. Tidak mengejek, melecehkan, mencari aib dan berghibah serta menyebarkan namimah kepada kaum muslimin
6. Mencintai dan selalu berusaha berkumpul bersama kaum muslimin
7. Melakukan apa yang menjadi hak kaum muslimin (menjenguk yang sakit, mengantar jenazah, dll)
8. Bersikap lembut, mendoakan serta memohon ampun bagi kaum muslimin
9. Amar ma'ruf nahi munkar serta menasehati kaum muslimin
10. Tidak cari-cari aib dan kesalahan kaum muslimin serta buka rahasia mereka kepada musuh Islam
11. Memperbaiki hubungan di antara kaum muslimin
12. Tidak menyakiti kaum muslimin
13. Bermusyawarah dengan kaum muslimin
14. Ihsan dalam perkataan dan perbuatan
15. Bergabung dalam jamaah kaum muslimin dan tidak berpisah dengan mereka
16. Tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.
Hak-Hak Al-Wala'
1. Membenci syirik dan kufur serta penganut-penganutnya dan menyimpan rasa permusuhan terhadap mereka sampai mereka hanya beriman kepada Allah.
2. Tidak jadikan orang kafir pemimpin dan selalu membenci mereka.
3. Meninggalkan negeri kafir dan tidak bepergian ke sana kecuali untuk keperluan darurat dan dengan kesanggupan memperlihatkan syiar-syiar agama dan tanpa pertentangan.
4. Tidak menyerupai mereka pada apa yang telah menjadi ciri khas mereka dan masalah dunia (seperti gaya makan dan minum) dan agama (seperti bentuk syia-syiar agama mereka).
5. Tidak memuji, membantu dan menolong orang dalam menghadapi kaum muslimin.
6. Tidak meminta bantuan dan pertolongan dari orang kafir dan menjadikan mereka sebagai sekutu-sekutu yang dpercaya menjaga rahasia dan melaksanakan pekerjaan penting.
7. Tidak terlibat dengan mereka dalam hari raya dan kegembiraan mereka, juga tidak memberi ucapan selamat.
8. Tidak memohon ampunan dan merasa kasihan terhadap mereka.
9. Tidak bersahabat dan meninggalkan majlis mereka.
10. Tidak bertahkim kepada mereka dalam menyaksikan perkara, tidak setuju dengan putusan mereka.
11. Tidak berbasa-basi dan bercanda dengan mereka dengan merugikan agama.
12. Tidak menta'ati arahan dan perintah mereka.
13. Tidak mengagungkan orang kafir dengan perkataan atau perbuatan.
14. Tidak menjadikan mereka sebagai pemimpin dan hakim baik secara lahir maupun batin.
15. Tidak memulai salam waktu jumpa dengan mereka.
16. Tidak duduk bersama mereka ketika membuat pelecehan terhadap agama.
Hukum-hukum al-wala' wal bara'
I. Hukum Penyesuaian dengan orang kafir.
Tiga kondisi yang dihadapi kaum muslimin:
1. Penyesuaian dengan mereka secara lahir dan batin: pelakunya kafir, keluar dari Islam (ijma').
2. Penyesuaian dengan mereka secara batin: pelakunya kafir, keluar dari Islam (nifaq besar) (ijma').
3. Penyesuaian dengan mereka secar lahir, ada 2 jenis:
a. Karena pemaksaan dengan pukulan, penyiksaan langsung dan ancaman bunuh: pelakunya tidak dianggap kafir selama ia hanya ucapkan kekufuran dengan lisan sedang hatinya penuh dengan iman.
b. Karena tujuan duniawi seperti ambisi kekuasaan, kedudukan, popularitas dan semacamnya: pelakunya kafir, jenis kekufurannya ada 2 pendapat.
1. Kufur besar, pelakunya keluar dari Islam, 16 : 107
2. Kufur kecil, pelakunya tidak keluar dari Islam (merupakan salah satu dosa besar).
II. Hukum safar dan bermukim di negeri kafir.
a. Boleh, yang dibolehkan ada 3 :
1. Safar dan bermalam dengan tujuan da'wah dan yakin ada jaminan keamanan bagi eksistensi agama.
2. Safar dengan tujuan perdagangan, yakin akan keamanan imannya.
3. Wanita, anak-anak dan orang dewasa yang lemah yang tidak sanggup meninggalkan negeri kafir karena kondisi geografis dan politik.
b. Haram, yang diharamkan ada 2 :
1. Tujuan duniawi.
2. Dorongan loyalitas dan kagum.
III. Hukum bermuamalah dengan orang kafir
1. Boleh melakukan transaksi perdagangan dan sewa menyewa selama alat tukar, keuntungan dan barangnya dibolehkan oleh syari'at Islam.
2. Wakaf mereka selama itu pada hal-hal di mana wakaf terhadap kaum muslimin dibolehkan.
3. Muslim laki-laki boleh menikahi wanita ahli kitab (Yahudi maupun Nasrani).
4. Pinjam meminjam walaupun dengan menggadaikan barang.
5. Orang kafir boleh berdagang di negeri muslim asal dibolehkan secara syar'i dan 10 % keuntungan harus diserahkan sebagai pajai untuk kepentingan umum kaum muslimin.
6. Jizyah bagi ahli kitab yang dalam perlindungan keamanan kaum muslimin.
7. Jika tidak sanggup bayar jizyah dibebaskan, jika miskin maka disantuni dari Baitu Maal kaum muslimin.
8. Haram membolehkan mereka membangun rumah ibadah di negeri muslim, gereja yang sudah tidak boleh dihancurkan namun bagi yang sudah runtuh tidak boleh dibangun kembali.
9. Hukum yang diberlakukan pada mereka harus dihapus jika dalam agama mereka dibolehkan, tapi haram menyampaikannya secara terang-terangan.
10. Jika perbuatan itu haram dalam agama mereka lalu mereka melakukannya maka harus dihukum.
11. Orang Zimmi dan Mu'ahid tidak boleh diganggu selama mereka komit dengan perjanjian.
12. Hukum qisas atas nyawa dan seterusnya juga berlaku bagi mereka.
13. Perjanjian damai dengan mereka atas permintaan mereka atau kita selama itu mewujudkan maslahat umum bagi kaum muslimin dan pemimpin kaum muslimin sendiri cenderung ke arah itu. Namun perjanjian damai ini bersifat sementara tidak mutlak.
14. Darah, harta dan kehormatan kaum Zimmi dan Mu'ahid adalah haram.
15. Ahlul Harb (harus diperangi), tidak boleh memerangi mereka sebelum diberi peringatan dan mereka boleh dijadikan budak, baik laki-laki atau wanita selama belum ada perjanjian damai.
16. Orang kafir yang tidak terlibat ( pendapat, perencanaan, diri) dalam memerangi kaum muslimin seperti anak-anak, wanita, rahib dalam rumah ibadahnya, orang tua jompo, orang sakit dan semacamnya tidak boleh diganggu dan diperangi.
17. Orang yang berlari menghindari perang dengan mereka tidak boleh dibekali dan apa yang ditinggalkan menjadi rampasan perang.
18. Pemimpin kaum muslimin yang menyatakan sah dan benarnya kepemilikan (tanah) mereka. Namun mereka harus membayar pajak, tanah itu dinyatakan tanah wajib pajak. Jika tidak mau bayar, harus diserahkan kapada kaum muslimin untuk dibangun di atasnya. Ini jika negeri mereka dibebaskan dengan perang, karena statusnya adalah harta rampasan perang.
IV. Perbedaan antara al-bara' dengan keharusan bermuamalah yang baik.
Konsep al-bara' tidak berarti bahwa kita boleh bersekap buruk terhadap mereka dengan perkataan atau perbuatan.
Seseorang muslim bahkan harus berbuat baik kepad kedua orang tuanya yang masih musyrik.
Kebencian terhadap orang kafir tidak boleh menghalangi kita untuk menggauli isteri dari ahli kitab dengan baik, memberikan hak-hak mereka, berbuat baik dengan mereka.
Hukum ini tidak berlaku bagi orang kafir yang berstatus Ahlul Harb, jadi diharamkan mendukung dan menolong orang kafir untuk kekufuran.
Diposkan oleh Urip Widodo, S.T. di 00.23
Langganan:
Postingan (Atom)
Beranda
SMPIT Ruhul Islam Simeulue kirim 18 Orang untuk Study Tour di Luar Negeri tujuan 2 Negara
Kembali Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu ( SMP IT) Ruhul Islam Simeulue melakukan program Study Tour ke Luar Negeri baru baru ini. ...
-
Kembali Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu ( SMP IT) Ruhul Islam Simeulue melakukan program Study Tour ke Luar Negeri baru baru ini. ...



